Pengertian Ilmu Nahwu Dari Para Ulama

Pengertian Ilmu Nahwu Dari Para Ulama

berikut adalah beberapa pengertian Ilmu Nahwu dari para Ulama ahli Nahwu

1. Pengertian Ilmu Nahwu oleh Ibnu Siraj:

وهو علمٌ استخرجه المتقدِّمون فيه مِن استقراء كلام العرب، حتى وقفوا منه على الغرض الذي قصده المبتدئون بهذه اللغة

artinya:
“Ilmu Nahwu yaitu Ilmu yg dikeluarkan oleh para pendahulu berupa pembacaan kalam arab, sehingga para pendahulu itu menempatkan ilmu itu di tujuan dimana para pelajar menghendaki ilmu itu dalam bahasa (Arab) ini.”

2. Pengertian Ilmu Nahwu berdasarkan Ibnu Jinni:

هو انتحاءُ سَمْتِ كلام العرب في تصرُّفه؛ من إعراب وغيره؛ كالتثنية،
والجمع، والتحقير، والتكسير، والإضافة، والنَّسب، والتركيب، وغير ذلك،
ليلحق مَن ليس مِن أهل اللغة العربية بأهلها في الفصاحة،
فينطق بها وإن لم يكن منهم، وإن شذَّ بعضهم عنها، رُد به إليها

artinya:

“Ilmu Nahwu adalah mengarahkan pokok kalam arab dalam hal perubahannya, baik dari segi i’rab serta selainnya, seperti tasniyah, jama’, bentuk kalimat tahqir, taksir, idhafah, nasab, tarkib, dan lain sebagainya, supaya orang yang tidak ahli dalam bahasa Arab bisa menjadi ahli dan fasih, sehingga orang itu bisa berbicara dengan bahasa Arab meskipun bukan orang arab, meskipun beberapa dari mereka akan kesulitan dengan bahasa Arab, dengan ilmu nahwu mereka bisa kembali pada bahasa Arab.”

Baca Juga : Al Quran I’rab Pertama di indonesia

3. Pengertian Ilmu Nahwu berdasarkan Ibnu Yaisy:

النحْوُ قانونٌ يُتوصَّل به إلى كلام العرب

artinya:
“Ilmu Nahwu merupakan hukum yg dengannya bisa dicapai kalam Arab”

هو علم يعرف به حال أواخر الكلم، وعلم النحو يبحث في أصول تكوين الجملة وقواعد الإعراب

artinya:
“Ilmu Nahwu merupakan Ilmu yg dengannya diketahui hal wacana akhir kalimat. Ilmu nahwu membahas juga asal dari adanya jumlah dan kaidah-kaidah perubahan akhir kalimat.”

dalam pengertian lain, ilmu nahwu juga didefinisikan sebagai:

وهو العلم الذي يضبط ويعرف به حالة أواخر الكلمة من حيث الإعراب والبناء،
ولهذا يجب إدراك نوع الكلمة وعلاقتها بالكلمة التي قبلها، فأقسام الكلمة
كما هو متعارف عليه هو اسم وفعل وحرف، فمثلاً هناك أحرف تنصب وتجزم،
وأسماء منصوبة مثل التمييز والحال والمفعول به وغيرها، وأفعال مثل الماضي والمضارع والأمر

artinya:
“Ilmu Nahwu ialah ilmu yg menjelaskan serta dengannya diketahui hal perihal akhir kalimat dari segi i’rab serta bina’. dengan demikian harus hukumnya mengetahui macam-macam kalimat dan kaitannya dengan kalimat sebelumnya.”

Adapun pembagian kalimat itu sebagaimana telah diketahui ialah isim, fi’il serta huruf. contoh dari ilmu nahwu ini adalah hufur-huruf yang dibaca nashab dan dibaca jazm. Isim-isim yg dibaca nashab seperti isim tamyiz, hal, maf’ul bih serta lain sebagainya. juga fi’il-fi’il seperti fi’il madhi, mudhari’ dan amr.

Secara Bahasa

Lafadz النَحْوُ secara bahasa mempunyai enam makna yaitu :
1. Bermakna ألقَصْدُ (menyengaja)
2. Bermakna الْجِهَةُ (arah)
contoh : نَحَوْةُ نَحْوَالْبَىْتِsaya menyengaja ke arah rumah.
tiga. Bermakna اَلْمِثْلُ (seperti)
contoh : زَىْدٌ نَحْوُ عَمْرٍو Zaid seperti umar.
4. Bermakna اَلْمِقْدَارُ (kira-kira)
contoh : عِنْدِى نَحْوُ الْفٍsaya memiliki kira-kira seribu.
5. Bermakna اَلْقِسْمُ (bagian)
contoh : هَذَا عَلَى خَمْسَةِ انْحَاءِmasalah ini adalah 5 bagian.
6. Bermakna اَلْبَغْضُ (sebagian)
contoh : اكَلْتُ نَحْوَ السَّمَكَةِ aku telah memakan sebagian ikan.
yg paling banyak dari enam makna di atas ialah maknah yang pertama.

Baca Juga : Al Quran Yang dilengkapi I’rab

Nahwu berdasarkan istilah diucapkan pada 2 hal :

Pengertian Ilmu Nahwu Dari Para Ulama

A. Diucapkan untuk istilah fan nahwu yg mencakup ilmu nahwu shorof atau juga disebut ilmu bahasa arab, yang devinisinya adalah :

عِلْمٌ بِاُصُوْلِ مُسْتَمْبَطَةٍ مِن كَلاَمِ الْعَرَبِ يُعْرَفُ بِهَا اَحْكَامُ الْكَلِمَاتِ الْعَرَبِيَةِ حَالَ اِفْرَدِهَا وَحَالَ تَرْكِبِهَا

“Ilmu perihal Qoidah-qoidah (pokok-pokok) yang diambil dari kalam arab, buat mengetahui hukum (Hukumnya Kalimat) kalimat arab yangtidak disusun (sepwrti panggilan, idghom, membuang dan mengubah huruf) dan keadaan kalimat ketika ditarkib (seperti I’robdan mabni).”

B. istilah nahwu yang sebagai perbandingan dari ilmu shorof, yang definisinya ialah :

عِلْمٌ بِاُصُوْلٍ مُسْتَنْطَةِ مِنْ قَوَاعِدِ الْعَرَبِ يُعْرَفُ بِهَا اَحْوَالُ آَوَاخِرِ الْكَلِمِ إعْرَابًا وَبِنَاءٌ

“Ilmu perihal pokok-pokok yang diambil dari qoidah-qoidah arab, buat mengetahui keadaan akhirnya kalimat dari segi I’rob dan mabni.”

dari dua definisi diatas, yg dikehendaki artinya definisi yg pertama, karena nahwu tidak hanya menyebutkan keadaan akhirnya kalimah dari segi I’rob serta mabninya namun menjelaskan keadaan kalimat saat tidak ditarkib, yang berupa I’lal, idhom, pembuangan serta pergantian huruf, dan lain-lain.

Nahwu merupakan salah satu dari dua belas cabang ilmu Lughot Al-arobiyyah menduduki posisi penting. oleh sebab itu, nahwu lebih layak buat dipelajari mendahului pengkayaan kosakata serta ilmu-ilmu lughot yg lain. karena, nahwu merupakan instrument yang amat fital dalam memahami kalam allah, kalam rasul serta menjaga dari kesalahan terucap.

oleh sebab itu, sebagai disiplin ilmu yang disebut penting, nahwu bukan sekedar buat pemanis istilah, tapi sebagai timbangan dan ukuran kalimat yang benar dan bias menghindar kan pemahaman yang salah atas suatu wicara.

oleh sebab itu,menurut kaidah hukum islam, mengerti akan Nahwu bagi mereka yang ingin memahami Al-Qur’an, hukumnya fardu ‘ain.

Sebab-sebab yg Mendorong Disusunnya Ilmu Nahwu

8f5f1e6a9d1d9593a00cc9aa352183b2Bangsa Arab di awalnya artinya bangsa yg memiliki keahlian dalam memakai dua bahasa sekaligus, yakni bahasa fasih serta bahasa dialek. saat sedang bersantai dengan keluarga misalnya, mereka memakai bahasa dialek. tetapi jika pada waktu yang lain mereka harus menggunakan bahasa fasih, mereka pun bisa melakukannya secara tepat. Al-Qur’an dan sabda Nabi juga disampaikan dalam bahasa Arab yang fasih.

setelah Islam berhasil melakukan futuh ke berbagai negeri ajam (non Arab), bangsa Arab mau tidak mau wajib bergumul dengan bangsa-bangsa yg tidak berbahasa Arab tersebut. akibat pergumulan yg berlangsung secara intens dan dalam waktu lama , bahasa Arab mulai terpengaruh oleh bahasa-bahasa lain. Orang-orang non Arab berusaha buat berbicara dalam bahasa Arab namun mereka melakukan banyak kekeliruan.

Orang Arab sendiri sedemikian toleran atas berbagai kekeliruan berbahasa Arab, baik yang dilakukan oleh orang non Arab maupun oleh orang Arab yang baru belajar berbahasa. saat itu, kesalahan bukan hanya dilakukan oleh orang umum tetapi pula oleh orang-orang terpelajar serta para sastrawan.

Dikisahkan, bahkan Al-Hajjaj, seorang yang sangat mahir berbahasa, pula sempat melakukan kesalahan. Banyaknya kesalahan, terutama dalam mengucapkan ayat-ayat Al-Qur’an, telah mendorong sebagian orang yang mahir berbahasa buat menyusun kaidah-kaidah bahasa, yg di kemudian hari dikenal sebagi ilmu nahwu.

TUJUAN DISUSUNNYA ILMU NAHWU

Tujuan utama penyusunan nahwu adalah agar bahasa Arab yg fasih tetap terjaga sehingga Al-Qur’an serta hadits Nabi juga terjaga dari kesalahan. pada sisi lain, ilmu nahwu juga bisa digunakan sebagai sarana buat mengungkap keajaiban bahasa Al-Qur’an (اعجاز القرآن).

SIAPAKAH yg MULA-MULA MENYUSUN ILMU NAHWU?

853473369b8a84a588b3ef8937a40f22Melalui pengkajian yang teliti, para ahli menetapkan bahwa yang meletakkan gagasan awal dan dasar-dasar dan metodologi ilmu nahwu artinya Ali bin Abi Thalib. Selanjutnya, pekerjaan tadi dilanjutkan secara ekstensif oleh muridnya yang bernama Abul Aswad.

mengenai pendapat yang berkata bahwa metodologi ilmu nahwu diadopsi dari tata bahasa lain – terutama Yunani – melalui perantaraan orang-orang Suryani, para ahli menyanggahnya dengan berkata bahwa metodologi itu orisinil dari Arab, terutama dengan adanya Al-Qur’an. Para ahli berkata bahwa tata bahasa Yunani memang sempat bergumul serta mempengaruhi ilmu nahwu, tetapi itu terjadi sehabis nahwu sendiri telah berada pada tengah-tengah formasinya.

PERKEMBANGAN ILMU NAHWU dari MASA KE MASA

Perkembangan ilmu nahwu dapat diruntut menjadi 3 periode:

1. Periode Perintisan dan Penumbuhan (Periode Bashrah)

Perkembangan pada periode ini berpusat di Bashrah, dimulai sejak zaman Abul Aswad sampai keluarnya Al-Khalil bin Ahmad, yakni hingga akhir abad kesatu Hijriyah. Periode ini masih bisa dibedakan atas 2 sub periode, yaitu masa kepeloporan dan masa pengembangan.

Masa kepeloporan tak sampai memasuki masa Daulah Abbasiyah. ciri-cirinya ialah belum keluarnya metode qiyas (analogi), belum keluarnya perbedaan pendapat, dan masih minimnya usaha kodifikasi.

Adapun Ciri Ciri masa pengembangan artinya makin banyaknya ahli, pembahasan tema-temanya semakin luas, mulai munculnya perbedaan pendapat, mulai dipakainya argumen dalam menjelaskan kaidah serta aturan bahasa, serta mulai dipakainya metode analogi.

2. Periode Ekstensifikasi (Periode Bashrah-Kufah)

Periode ini merupakan masa ketiga bagi Bashrah serta masa pertama bagi Kufah. Hal ini tidak terlalu mengherankan, karena kota Bashrah memang lebih dulu dibangun daripada kota Kufah. pada masa ini, Bashrah sudah menerima rivalnya.

Terjadi perdebatan yg ramai antara Bashrah serta Kufah yang senantiasa berlanjut hingga membuat apa yg dianggap menjadi aliran Bashrah dengan panglima besarnya Imam Sibawaih serta aliran Kufah dengan panglima besarnya Imam Al-Kisa’i.

pada masa ini, ilmu nahwu menjadi sedemikian luas hingga membahas tema-tema yang waktu ini kita kenal menjadi ilmu sharf.

3. Periode Penyempurnaan dan Tarjih (Periode Baghdad)

pada akhir periode ekstensifikasi, Imam Al-Ru’asi (dari Kufah) telah meletakkan dasar-dasar ilmu sharf. Selanjutnya pada periode penyempurnaan, ilmu sharf dikembangkan secara progresif oleh Imam Al-Mazini.

Implikasinya, sejak masa ini ilmu sharf dipelajari secara terpisah dari ilmu nahwu, sampai saat ini. Masa ini diawali dengan hijrahnya para ahli Bashrah dan Kufah menuju kota baru Baghdad. Meskipun telah berhijrah, pada awalnya mereka masih membawa fanatisme alirannya masing-masing.

namun lambat laun, mereka mulai berusaha mengkompromikan antara Kufah serta Bashrah, sehingga memunculkan sirkulasi baru yang disebut sebagai aliran Baghdad. di masa ini, prinsip-prinsip ilmu nahwu telah mencapai kesempurnaan.

aliran Baghdad mencapai keemasannya di awal abad keempat Hijriyah. Masa ini berakhir pada kira-kira pertengahan abad keempat Hijriyah. Para pakar nahwu yg hidup sampai masa ini dianggap sebagai ahli nahwu klasik.

setelah 3 periode diatas, ilmu nahwu juga berkembang di Andalusia (Spanyol), lalu di Mesir, dan akhirnya di Syam. Demikian seterusnya hingga ke zaman kita saat ini.

dalam ilmu Nahwu objek bahasannya tertuju di kosa katsa Arab baik dalam bentuk istilah tunggal atau tersusun, tentang vocal akhir (I’rob) yang menentuakan suatu istilah, mengenai pergantian, pembuangan dan I’lalul huruf serta banyak yang lain.

Alam tata bahasa sintaksis Arab, dikenal istilah Fi’iil serta Harf, jumlah Islamiyah serta Fi’liyah dan Syibhu jumlah. dalam ilmu Nahwu banyak lagi kata dan persoalan yg dihadapi dapat diteliti dari kitab -kitab bahwa yang banyak tersebar. yang dikenal memprakarsai Nahwu artinya Ali bin Ali Thalib beserta sahabatnya.

Adapun nahwu, istilah kuncinya merupakan kalimat (الجملة). ia secara khusus berbicara perihal jabatan tiap elemen kalimat serta secara umum berbicara tentang hukum mengenai hubungan antar elemen tersebut.

Demikianlah, ilmu nahwu sudah digunakan buat menganalisis secara sintaktik bagian-bagian sebuah kalimat dan hubungan antar bagian-bagian tersebut dalam apa yg dalam tradisi klasik kita sebut sebagai korelasi penyandaran (الاسناد).

Jadi ilmu nahwu tidaklah hanya berbicar tentang harakat di akhir kata dan i’rabnya, tetapi beliau juga mengatur tentang bagaimana cara yang baik dalam menyusun dan merangkai kalimat.

 

Sumber: http://www.sukrialmarosy.com/2018/07/pengertian-ilmu-nahwu.html